Antara Indie Label dengan Mayor Label

Bikin album ?? Wah kayaknya cita-cita dan impian setiap orang ya. Bagi setiap kumpulan nasyid pasti kepengen yang namanya punya album. Nah ngomong-ngomong masalah bikin album dikenallah istilah indie label dan mayor label. Dua istilah ini pun sudah banyak diperbincangkan dalam dunia rekaman. Sudah jadi topik yang hangat dibicarakan. Ada baiknya juga sih kalau ikutan membahasnya disini. Soalnya kalau bisa memahami keduanya, kita bisa nentuin langkah untuk memajukan nasyid. Apalagi bagi tim nasyid pemula yang pengen sukses dunia akhirat. Ya kagak ?

Okay, disini saya cuma ngasih kutip-kutipan dari teman-teman di milis musik konvensional dan beberapa milis serupa. Topiknya berkisar tentang positif negatif Indie dan Major label.

Seperti komentar Rico dari Resswara Musik Indonesia satu ini : “Menurut gue Label pada saat ini tidak bisa sepenuhnya menjadi tempat tendangan pojok dalam lapangan industri musik indonesia saat ini (… eh, tendangan pojok ? emang maen bola ?). Entah itu Major Label/Minor Label/Indie Label maupun Independent Label. Semua pasti sudah berusaha yang terbaik dan tau apa yang mesti dilakukan untuk mempromosikan Produknya, namun mungkin memang sasarannya kurang tepat dan pasar sendiri dalam keadaan “kebingungan” dalam memilih “makanan kesukaannya”. Tapi menurut gue saat ini label apapun itu yang terdapat di Indonesia kita ini memang seharusnya mulai “bekerjasama” menjadi satu kesatuan dan bareng-bareng membangun musik Indonesia. (.. bersama-sama membangun nasyid Indonesia yah)

Tapi satu hal yang terlupakan, bahwa sebenarnya yang punya peranan penting dalam Satu buah Artis adalah Manajemen mereka itu sendiri. Apakah sudah cukup peka dalam memperkenalkan Artis yang mereka manajeri secara meluas. Peka dengan setiap event-event, peka dengan setiap titik-titik untuk bisa tampil show. (Bagaimana nih manajemen-manajemen tim nasyid ? Siap peka yah.)

So, dengan ini mari kita sama-sama bergandeng tangan untuk kembali mengangkat musik dan musisi Indonesia lebih merata..sama-sama untung, sama-sama eksis, dan sama-sama punya tempat dihati masyarakat..Ok? setuujuu?. (Setuju..setuju Mari-mari kita bergandeng tangan demi majunya nasyid Indonesia. Eh nggak hanya di Indonesia ding, di Malaysia, Singapura dan bahkan di dunia.)

Satu ini dari Yasmine EMI yang tahu luar dalam mayor label : Pengen nimbrung juga walaupun telat buanget, soalnya topik ini adalah topik yang dari dulu cukup “kenceng” di telinga gue yang dimana gue menjadi buruh di salah satu label 5 majors dan sementara itu gue juga memiliki teman-teman indie yang deket dan selalu mempertanyakan kinerja kita yang menurut mereka terlalu “bermain aman”, dan “monoton” dan kadang-kadang “memuakkan” buat mereka. (Wah sampai segitunya. Tapi emang juga sih. Soalnya ada beberapa munsyid yang cerita sama saya. Kejadiannya begitu juga.)

Semua treatment yang kita lakukan ke artis kita memang kadang-kadang terlalu “industry” karena ada beberapa faktor yang mau ga mau kita harus berbuat begitu. Diantaranya adalah tuntutan “angka” yang ditetapkan dari regional asia kita masing-masing. Hal seperti itu yang menjadi beban 5 majors di Indomesia sekarang ini, terutama untuk local divisi. Kita juga berusaha untuk tidak mengexploitasi band-band kita untuk terus “berkiprah” di pusat-pusat kota kalau kita tau potensi band terxebut tidak untuk tingkat kota. Dan seringkali kita membuat press con dan launching di daerah-daerah dimana band tersebut besar seprti Jogjakarta, Solo… bahkan kadang-kadang kita bawa tour mereka ke daerah dimana memang mereka dikenal seprti Tegal, purwokerto, Pekalongan, Cirebon, dsb. Kalau ada yang “menajiskan” band-band indie masuk major aku jadi bingung, ini cuman masalah kemampuan untuk distribusi dan kemampuan produksi kok. Tetapi kalau mereka merasa “disetir” yaa…karena kita ada “angka”, ada “angka” maka ada konsekuensi, tapi kalau ternyata mereka berkualitas dan jualan nya bisa mass banget, mereka juga kok yang untung, yang semula hanya dikenal di daerahnya di Padang, eh bisa main di Bali, and dapet job dimana-mana. ( Eh ngerti nggak ? Ngerti kan maksudnya ? )

Kalau bagi aku pribadi, fungsi releasenya sebuah album sebagai ajang untuk “mempromosikan ” band tersebut sehingga mereka bisa tetep dapet order manggung dimana-mana. Jujur aja, kalau bisa manggung sebulan 20x akan lebih banyak duitnya daripada duit royalti penjualan album dalam bulan itu….dan sekarang mana ada EO/ sponsor yang mau ngambil band untuk manggung di event atau jadi artis mereka kalau ga pernah release album? Mereka akan ambil band industri dan mereka akan memberi si band setahun 20-80 tour, enak khan? Sedangkan kita pekerja labelnya tetep kere heheheh…(pengalaman pribadi) (oh gitu yaaaa …..)

Semakin lama industri ini memang semakin komplex. Kalau jaman bahala dulu industri ini dimulai cukup dengan adanya orang yang bersedia untuk tampil dan ada orang yang bersedia untuk membayar, nowadays i’ts lots more than that. Sekarang ada yang namanya AGEN AGEN NAKAL yang telat bayar barang ke pihak distributor/label. Sehingga kadang-kadang dapat menghambat perputaran uang di label-label kecil dan besar. Dimana kita juga yang harus bayar pabrik jadi terlambat karena uang dari agen belum dibayar dan beruntun pada akhirnya si pabrik tidak mau produksi album kita. Ada yang namanya PEMBAJAK yang bikin hidup industri ini yang udah susah makin susah. (Nah lho para pembajak … sadarlah). Ada yang namanya COMPETITOR, dimana kita harus berpacu dengan 20 label yang ada di Indonesia dengan release-an minimal 2 artis local /bulan dan , belum lagi kita harus SAINGAN dengan PRODUK INTERNATIONAL yang perbulannya bisa 4-5 artis yang release . Total per bulan relese baru di toko bisa masuk sebanyak 65 produk local dan international belum lagi back katalog yang pada akhirnya kita juga harus rebutan space untuk memajang “produk-produk” kita. Dan belum yaaa yang namanya album rekaman adalah produk tersier, bukan kayak pupuk atau krupuk yang pasti dibutuhkan orang setiap hari dan pasti terjual.

It’s not simple friends, for us and the artists. Kalau bagi gue sama aja sih mau indie atau mau major kalu emang “kuenya” enak, “sales kuenya” ga akan susah jualannya kok…. mau ditaruh di warung rokok, dititipin tukang bakso, ditaruh di distro, ditaruh di mall pasti laris manis dan jualanya pasti kena target buat label besar dan kecil. Segala hal kalau cuman ngliat emang gampang kok, tapi pas ngelakuin nya bisa ampe nangis bawang bombay dan nangis darah. ( wuihhh segitunya ….. )

Komentar dari Upie yang menyetujui kalo Major Label kadang mengesampingkan idealisme sang musisi : Setuju.. setuju major label (kebanyakan..gak semua sih..dan tergantung siapa yang megang) tidak punya wawasan cukup untuk mengenali musik si artis dengan detail. Kadang-kadang terlalu men-generalisasikan secara umum, dengan wawasan seperti ini, seringkali kasusnya adalah salah menebak potencial buyer produk mereka sendiri.. Wajarlah soalnya kan major label bisanya artisnya banyak banget dan kadang-kadang rilisnya bareng, jadi strategi promosinya tetep make template yang sama pada artis yang bebeda.. he he he Pada dasarnya gw melihat jenis musik sebagai gaya hidup dan harus dipublikasikan secara tajam dan total (tidak perlu biaya besar, asal sasarannya tepat aja), contohnya untuk mempublikasikan sebuah merk pupuk organik gak perlu buang2 duit masang iklan di majalah cosmopolitan atau bahkan semua majalah, tapi cukup di majalah2 pertanian saja..demikian juga dgn musik. (ohh begitu yaaa.. kok komentar begini mulu yah… hihi abis saya bingung seh. )

Nah… sudah baca kan. Teman-teman bisa ngambil hikmahnya sendiri yaah .. hihihi. Soalnya kepanjangan kalau saya mau ngebahas lagi. Lagian tulisan-tulisan diatas udah cukup lengkap kap kap. Entar saja kapan-kapan dibahas lagi yah. Keep Strugle together lah … (hubban nasyid.com)

BAGIKAN