KJIOH

Keep Jihad In Our Heart. Bahagianya ketika kalimat itu dituliskan oleh seorang Afwan Riyadi, Izzatul Islam, di lembaran buku agenda  pribadi saya. Saat itu, 7 April 2003, adalah saat yang sangat saya nantikan – Izzatul Islam akan mementaskan nasyid-nasyid terbaiknya di Auditorium UNAND, Limau Manis, Padang. Bersamaan itu pula saya pertama kali melihat Aa Gym dari dekat. Senangnya..

Tanamkan Jihad  di Hati Kita – akhirnya  menjadi sebuah slogan kehidupan bagi saya. Ada berjuta makna yang tak mampu terwakilkan oleh rangkaian kata itu. Dan setiap waktu, di setiap  tempat, di berbagai aktivitas, kata itu menjadi berarti tatkala ia hadir sebagai obat kemalasan dan kegelisahan. Memang ia adalah kalimat yang sederhana. Tidak setinggi kalimat tauhid ”Laa ilaaha illallaah”, tidak sesuci kalimat ”Subhanallah”, dan jauh dari begitu bermaknanya asma Allah. Namun sadar atau tidak, ternyata kalimat itulah yang menghantarkan saya pada sebuah perubahan, sebelum saya mengenal lebih  dalam kalimat berikutnya. Adalah kalimat ini, yang meneguhkan kembali setajuk syahadah yang saya jalani, yang menyerulingkan imajinasi saya pada kalimat-kalimat terbaik, kalimat­-kalimat thoyyibah, kalam­Nya Yang Maha Sempurna.

Setiap diri memiliki beragam cara untuk mengenal dirinya. Setiap pribadi akan mengetahui bilik-­bilik kepribadiannya. Setiap lintasan hati, kerutan dahi, rangkaian ucapan, gerak tindakan, walaupun pribadi itu sendiri sudah benar-benar  mengenalnya, namun Allah Maha Mengetahui atas segalanya.

Dan kalimat-­kalimat visi yang telah kita miliki, motto yang sudah seringkali kita tulis dalam setiap curriculum vitae, visi peran dan rencana kehidupan yang akan kita jalani, berikut dengan slogan­slogan yang seringkali melekat dalam aktivitas kita, sesungguhnya itu merupakan jembatan yang menghantarkan kita pada sebuah kesungguhan. Kesungguhan atas sekepal keyakinan bahwa ada ta’yidullah (keterlibatan Allah) di setiap detik perjalanan hidup kita.

Maka susunlah kalimat-kalimat terbaik untuk memotivasi diri kita. Karena kehidupan ini bermula dari padanan kata – kun fayakun, awal mula agama samawi ini pun sesungguhnya ketika diperdengarkan kata­kata – iqro’ bismirobbikalladzii khalaq, dan aktivitas da’wah ini pun adalah sarat dengan kata­-kata.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh,dan berkata: “Sesungguhnya  aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (Q.S. Fushilat:33)

@ariepoernama, Munsyid @nasyid_naam, Desainer @pksart, Owner @namagraph

BAGIKAN