Kode Etik Munsyid Bogor

Nasyid sebagai bagian dari syi’ar Islam merupakan titik sentuh da’wah yang universal. Di dalam sya’irnya tersurat nilai-nilai kebenaran, nasehat, moral, kejujuran dan keteladanan, yang dibingkis dengan seni Islam yang sederhana namun tetap elegan. Nasyid pun dapat dinikmati oleh seluruh segmen usia, di setiap masa dan setiap tempat. Heterogenitas dan beragamnya kultur masyarakat bukan menjadi penghambat dalam memajukan nasyid.

Adapun dasar pemikiran yang menjadi landasan kode etik ini adalah sebagai berikut:

  1. Firman Allah swt: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (Q.S. Fushshilat:33)
  1. Firman Allah swt: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (Q.S. Al-Ahzab:70)
  1. Firman Allah swt: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Hud:112)
  1. Firman Allah swt: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu …” (Q.S. Al-Ma’idah:1)

Berangkat dari perhatian kita bersama terhadap perkembangan nasyid dewasa ini, maka diperlukan suatu kaidah terukur yang menjadi koridor bagi para munsyid dalam bernasyid. Kaidah-kaidah tersebut dirumuskan dalam Kode Etik sebagai berikut:

ASPEK NORMATIF (Personal)

  • Seorang munsyid adalah teladan bagi yang lain, sehingga pribadinya harus mencerminkan kepribadian yang Islami (syakhshiyah al-Islamiyah)
  • Seorang munsyid adalah da’i bagi ummat, sehingga harus memiliki komitmen dalam menyerukan kebaikan dan menolak keburukan yang bersifat universal (‘amar ma’ruf nahi munkar)
  • Seorang munsyid adalah aktivis da’wah, sehingga ia harus berafiliasi pada kegiatan-kegiatan pembinaan da’wah, baik secara formal maupun informal, di akademi maupun di masyarakat, lokal maupun regional (tarbiyah al islamiyah)
  • Seorang munsyid harus senantiasa menjaga keikhlasan dalam bernasyid, sehingga ia harus waspada terhadap bahaya ujub dan riya’ (ikhlasun niyat)

ASPEK KOLEKTIF (Tim)

  • Tim nasyid adalah sebuah organisasi, sehingga secara kolektif setiap munsyid harus memiliki komitmen untuk membangun soliditas tim (‘amal jama’i)
  • Soliditas tim nasyid adalah sarana untuk menjaga kepribadian personilnya, sehingga setiap munsyid akan saling menasehati antar sesamanya (tawsi bil haq wa tawsi bi shabr)
  • Tim nasyid adalah sebuah keluarga, sehingga di dalamnya harus terbangun ikatan hati dan persaudaraan yang kokoh (taliful qulub)

ASPEK TEKNIS

  • Setiap tim nasyid harus menjaga penampilannya sebaik mungkin, sehingga akan menjadi titik sentuh da’wah yang potensial di masyarakat (itqon bi da’watil Islam)
  • Setiap tim nasyid hendaklah melakukan seleksi lagu dalam melantunkan nasyid, sehingga nasyid yang ditampilkan mengandung hikmah dan sesuai dengan nilai-nilai Islam (bi’ah Islamiyah)
  • Setiap tim nasyid hendaklah profesional dalam memanajemen waktu, sehingga menampilkan citra yang baik terhadap klien/masyarakat (haritsun ‘ala waqtihi)
  • Setiap tim nasyid hendaklah memiliki referensi ke-Islaman yang banyak pada saat tampil, sehingga harus memiliki wawasan/pengetahuan ke-Islaman yang luas (mutsaqaful fikr)
  • Setiap tim nasyid hendaklah menghindari kemaksiatan atau kemunkaran, baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il), atau sarana (asy-yâ’), menghindari ikhtilath (campur baur pria–wanita), atau syairnya yang bertentangan dengan syara’, misalnya mengajak pacaran, mendukung pergaulan bebas, dsb.

Demikianlah Kode Etik ini disusun sebagai bentuk perhatian (ihtimam) kita bersama terhadap perkembangan nasyid. Semoga Allah tetap menjadikan kita sebagai seorang munsyid yang berda’wah tetap di atas asholah (orisinalitas) dan kaidah yang disepakati bersama.

Al haqqu bi laa nizhom yaghlibuhul baathilu bi nizhom

Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. (Ali bin Abi Thalib ra)

Bogor, 8 Juni 2008